JAKARTA, Berita HUKUM - Sejarah peradaban Islam memperlihatkan momentum keemasan dan kebangkitan peradaban manusia, baik dalam aspek budaya, ekonomi, sosial dan politik. Peradaban berlangsung dalam kurun waktu yang panjang, dan tersebar ke beberapa wilayah hingga ke benua Eropa, Asia dan Afrika. Kala itu peradaban Islam menjadi sorotan dunia hingga runtuhnya Turki Ustmaniyah menandai runtuhnya kejayaan Islam dan sekaligus simbol permulaan modernisasi (barat) yang berlangsung cepat seolah manafikan peranan dan kejayaan Islam di masal lalu.
Dampaknya kini Indonesia juga mengalami era modernisasi (barat) tersebut, terbukti dari catatan sejarah Indonesia telah mengalami berbagai gejolak politik seperti reformasi menjadi momentum semua pihak, dalam arus politik dan pembangunan termasuk kalangan Islam Indonesia, namun setelah 17 tahun reformasi bergulir posisi umat Islam di Indonesia dalam pembangunan belum juga menunjukkan perkembangan maju.
Menteri BUMN Dahlan Iskan yang menjadi narasumber pada Public Lecturer Ramadhan yang diadakan oleh Klub Studi Pergerakan di Aula Pertemuan Hotel Acacia hari ini, Selasa (30/7) mengatakan, "Indonesia sebenarnya adalah bagian dari zaman termodernisasi secara terpaksa, mengapa saya katakan demikian, mungkin teman-teman mahasiswa dan teman-teman wartawan yang hadir dalam Public Lecture Ramadhan ini, masih mendengar rakyat miskin di Indonesia ada sekitar 35 juta jiwa kurang lebih, mari kita berfikir secara logika saja, jika 35 juta jiwa masih miskin lalu sisa dari jumlah itu dari total jumlah penduduk Indonesia berarti termasuk golongan menengah dan golongan kaya. nah sisa penduduk itulah yang membuat kemajuan di Indonesia, gambarannya begini, katakanlah agar mencapai skala 100 persen, dari total jumlah penduduk Indonesia berkisar 200 juta jiwa berarti sisanya adalah 165 juta jiwa bukan, nah mereka inilah yang tersebar yang mengecap pendidikan politik, dimana mereka bebas berbicara dan boleh dikatakan terlalu bebas mengunggungkapkan pendapat, walau 80 persen dari kebebasan berpendapat itu menjadi gangguan terhadap kinerja pemerintah, disinilah posisi Indonesia menjadi bagian termodernisasi secara terpaksa tersebut".
Saat ini BUMN cenderung menjadikan privatisasi sebagai cara dalam mengoptimalkan kinerja dan mutu perusahaan dalam service management dan resource management. Dalam acara tersebut mahasiswa bertanya kepada Dahlan Iskan "Apakah BUMN tidak merasaa rugi jika aset-aset BUMN banyak diswasta murnikan?" Dahlan Iskan menjawab "dalam sistem perusahaan pastilah mengalami rugi bahkan tidak pernah ada dalam perusahaan untung tanpa kerugian, tetapi lihatlah data kerugian BUMN ketika tidak saya pegang kerugiannya tiap pembukuan melulu ruginya bertambah namun sejak BUMN dipercayakan Presiden kepada saya alhamdulilah kerugian tiap perhitungan buku selalu menurun".
Dewi seorang Mahasiswi UNJ berkesempatan menanyakan "bilakah BUMN telah dapat dikatakan sukses menangani masalah pertanian, tapi kita juga mendengar di beberapa media menyebutkan BUMN tidak berhasil dalam menangani tembakau, apa benar tembakau itu diimpor dari luar padahal sejak jaman Belanda Indonesia terkenal sebagai negara penghasil terbesar sektor tembakau?".
Sejenak Dahlan Iskan melemparkan senyumnya kepada khalayak pengunjung, lalu menjawab "pertanyaan ini sangat brilian ini bukti rakyat itu benar-benar mengikuti kinerja BUMN selama ini, ya memang saya sengaja mengubur seluruh opini mengenai BUMN karna bagi saya opini itu bagian gangguan kinerja BUMN, ya sudah jelas belum juga melihat hasil tiba-tiba kita mendengar kelompok katakanlah A, B, C mengeluarkan opini miring padahal belum tentu mereka mengetahui detail titik kelemahan BUMN dalam menangani masalah tersebut". Suasana menjadi terliat hening dan muka-muka peserta menyiratkan kebingungan akan jawaban Dahlan Iskan.
"Begini baru-baru ini saya meminta kepada presiden agar presiden menyetujui rencana BUMN untuk memakmurkan petani jalurnya dengan pinjaman bank dan BUMN menjadi penjamin atas pinjaman tersebut dan kita tidak meminta imbalan bunga ini benar-benar merupakan bantuan modal kepada rakyat petani, tapi bantuan pinjaman itu bukan berupa modal uang namun beberapa ternak sapi, kerbau, kambing sesuai kemampuan si Petani dalam berternak.
Nah bila petani kita ajak beternak, maka Insya Allah taraf ekonomi mereka akan bertumbuh sebab petani tidak dapat sejahtera hanya mengandalkan bertani, harus didampingi usaha ternak, lalu apa hubungannya dengan masalah tembakau, ya memang gak'ada hubungannya hanya saja kita mengalihkan fokus sektor tersebut ke sektor beternak, sebab sektor tembakau Indonesia saat ini memang sudah habis dan kesimpulannya petani itu tidak dapat sejahtera jika hanya mengandalkan hasil pertanian dan perkebunan semata," ujar Dahlan Iskan, tiba-tiba seruan tepuk tangan dan suara tertawa memenuhi aula tersebut mendengar jawaban sang menteri, yang pandai melampiaskannya dengan canda gurau khasnya.
Acara Public Lecture Ramadhan yang digagas oleh Klub Studi Pergerakan yang anggotanya terdiri dari mahasiwa-mahasiswi Muslim dari beberapa universitas di Jakarta berlangsung hingga jam berbuka puasa, namun setelah memberikan ceramah ilmiahnya Dahlan Iskan langsung diserbu para peserta sambil Dahlan Iskan melangkah keluar aula.(bhc/ink) |