Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Politik    
Pemilu 2014
Indonesia Baru Butuh Pemimpin yang Bukan Pelanggar HAM
Friday 04 Apr 2014 18:36:09
 

Diskusi: Pilpres 2014; 'Menarik Garis Demarkasi Antara Orde Baru dan Generasi Baru'.(Foto: BH/put)
 
JAKARTA, Berita HUKUM - Dalam Diskusi: Pilpres 2014; "Menarik Garis Demarkasi Antara Orde Baru dan Generasi Baru", dimana Pemilu ini memiliki arti penting, bukan semata-mata karena kita akan memiliki pemimpin baru, disamping itu agar Indonesia dapat mengejar ketertinggalannya dengan bangsa lain dalam persoalan penegakkan HAM.

Menurut Kordinator KontraS, Haris Azhar, yang hadir sebagai narasumber dalam acara ini menyatakan, saatnya kedepan kita harus berani mendorong rezim Indonesia baru, negara harus menarik garis batas demokrasi. Haris mencontohkan, bahwa Presiden SBY merupakan pemimpin yang paling elegan dan berkuasa penuh hampir 10 tahun, namun Presiden SBY menurut Haris merupakan bagian dari sisa-sisa orde baru.

"Gagasan kebangsan dan demokrasi karena orde baru sudah memiliki sistim, kekerasan bisa dilatih, bisa dibayar, dan itulah contoh orde baru, siapapun bisa melakukan kekerasan, dan siapapun bisa menyusun agenda kekerasan," ujar Haris Azhar pada acara Diskusi bersama narasumber dari ICW di Galery Cafe Cikini Jakarta Pusat, Jumat (4/4).

Dijelaskannya, bahwa dirinya tidak dalam posisi kesatu partai tertentu dan tidak ke satu Capres tertentu, KontraS melihat ada Partai-Partai dan Capres yang memang bisa berpotensi membubarkan agenda penegakkan Hak Azasi Manusia kedepan di Indonesia.

"Ada sejumlah nama, ada Prabowo yang patut diduga diminta pertangung jawab terhadap kasus penculikan, ada Wiranto dalam kasus penembakan Semanggi belum selesai, peristiwa Mei belom selesai, dan Aburizal Bakrie kasus lumpur lapindo belum selesai, kita tidak boleh biarkan partai atau Capres tertentu ini maju, sampai adanya kejelasan terhadap kasus-kasus tersebut," ujar Haris Azhar kembali.

Menurutnya, KontaraS punya alternatif lain, namun dirinyapun masih bertanya, apakah nantinya mampu menuntaskan kasus-kasus pelanggaran HAM massa lalu?.

"Penegakkan HAM merupakan jati diri bangsa Indonesia dan bukan agenda asing, bukan agenda Yahudi, jangan di politisir, HAM harus melekat pada bangsa Indonesia," pungkas Haris Azhar.(bhc/put)



 
   Berita Terkait > Pemilu 2014
 
  Sah, Jokowi – JK Jadi Presiden dan Wakil Presiden RI 2014-2019
  3 MURI akan Diserahkan pada Acara Pelantikan Presiden Terpilih Jokowi
  Wacana Penghapusan Kementerian Agama: Lawan!
  NCID: Banyak Langgar Janji Kampanye, Elektabilitas Jokowi-JK Diprediksi Tinggal 20%
  Tenggat Pendaftaran Perkara 3 Hari, UU Pilpres Digugat
 
ads1

  Berita Utama
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?

KPK Didesak Usut Tuntas Dugaan Korupsi di BRI dan Telkom terkait Pengadaan Layanan Notifikasi Perbankan

Dirut Pengembang Emeralda Resort Dipolisikan, Diduga Tipu Konsumen hingga Rp 117 Miliar

Silmy Karim Ditetapkan Tersangka KPK dan Disebut Terima Jatah Pemerasan Urus Izin Tinggal WNA Rp 100 Juta Tiap Minggu

 

ads2

  Berita Terkini
 
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?

KPK Didesak Usut Tuntas Dugaan Korupsi di BRI dan Telkom terkait Pengadaan Layanan Notifikasi Perbankan

Dirut Pengembang Emeralda Resort Dipolisikan, Diduga Tipu Konsumen hingga Rp 117 Miliar

Iran bombardir pangkalan AS di Kuwait dan Bahrain

Nikita Mirzani apes kalah di pengadilan setelah gugatan Rp244 miliar pada Reza Gladys ditolak

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2