Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Internasional    
Mahfud MD
Ketua MK: Hukum Untuk Mengawal Demokrasi
Tuesday 12 Feb 2013 09:21:15
 

Ilustrasi, Mahfud MD.(Foto: BeritaHUKUM.com/zul)
 
SINGAPURA, Berita HUKUM - Keberadaan MK merupakan upaya mempersejajarkan perkembangan demokrasi yang begitu cepat dengan hukum. Agar demokrasi dapat berjalan pada jalur yang benar, maka perlu diimbangi dengan penegakkan hukum sehingga demokrasi tidak berubah menjadi kesewenang-wenangan.

"Demokrasi harus dikawal dengan nomokrasi," kata Mahfud pada temu wicara dengan WNI yang menetap di Singapura, Senin (11/2) di KBRI Singapura.

Mahfud mencontohkan, pemakzulan tiga orang Presiden RI hanya karena didasarkan pada alasan politik dan atas nama demokrasi tanpa alasan hukum merupakan bentuk kesewenang-wenangan demokrasi. Begitu pula dengan pembubaran partai politik yang pernah dilakukan pada masa lalu karena atas dasar perbedaan pandangan politik oleh penguasa.

"Kini, hal-hal seperti itu tidak bisa lagi dilakukan. DPR tidak bisa memberhentikan presiden sebelum ada Putusan MK. Begitupun sebaliknya, pembubaran parpol harus dengan pembuktian pelanggaran yang dilakukan melalui pengadilan MK," jelasnya.

Sebelumnya, Andri Hadi, Duta Besar RI yang melayani sekitar 200 ribu orang WNI di Singapura dalam sambutannya mengatakan bahwa saat ini MK jadi pilar terakhir bagi masyarakat dalam penegakan hukum. Sehingga seluruh masalah ditumpahkan ke MK, meskipun bukan kewenangan MK. "Bahkan sampai Aceng (Bupati Garut-red) minta fatwa MK, meskipun kemudian ditolak," ujarnya.

Pancasila Sudah Final

Indonesia berdiri bukan sebagai negara agama. Tetapi Indonesia juga bukan negara sekuler yang memisahkan kehidupan keagamaan dengan kehidupan bernegara. Pancasila yang disepakati oleh para pendiri negara sebagai ideologi dan dasar negara telah final menjadi norma dasar (fundamental norm) kehidupan bernegara Indonesia.

Orang atheis dan komunis tidak bisa dihukum. Orang yang menyatakan keyakinannya untuk dirinya sendiri tidak bisa dihukum. "Yang bisa dihukum kalau mengajak orang lain mengikuti keyakinannya," kata Mahfud. Ketika ajakan tersebut kemudian membawa pada munculnya gerakan atau hasutan sehingga mengganggu ketertiban umum, hal itu lah yang dianggap melanggar hukum.(an/mk/bhc/opn)



 
   Berita Terkait > Mahfud MD
 
  Alasan Mahfud MD Terima Permintaan Prabowo Gabung dengan Komisi Reformasi Kepolisian
  Mahfud MD Tetap Maju pada Bursa Capres dan Cawapres
  Mahfud MD Capres Pilihan Santri
  Mahfud MD Luncurkan Buku: 'Bersih dan Membersihkan'
  Mahfud MD: Ada 3 Gerakan Berbahaya Beroperasi di Indonesia
 
ads1

  Berita Utama
Gerindra Dorong Tindak Lanjut Suket Tidak Sah Gibran Rakabuming Raka dan Selesaikan secara Konstitusional

Munaslub IWAPI 2026 Sah dan Mengikat, Pemberhentian 26 Ketua DPD Cacat Hukum

Dirut PT TGSI Lapor Propam Polri terkait Penanganan Perkara di Polres Metro Jaksel, Dugaan Kriminalisasi Mencuat

Munaslub IWAPI: 26 DPD Sepakat Pilih Hana Fadel Mohammad Jadi Ketum Periode 2026-2031

 

ads2

  Berita Terkini
 
• Gerindra Dorong Tindak Lanjut Suket Tidak Sah Gibran Rakabuming Raka dan Selesaikan secara Konstitusional

• Munaslub IWAPI 2026 Sah dan Mengikat, Pemberhentian 26 Ketua DPD Cacat Hukum

• Dirut PT TGSI Lapor Propam Polri terkait Penanganan Perkara di Polres Metro Jaksel, Dugaan Kriminalisasi Mencuat

• Munaslub IWAPI: 26 DPD Sepakat Pilih Hana Fadel Mohammad Jadi Ketum Periode 2026-2031

• Beredarnya Video AI Prof Djokosoetono, Bantahan Mintarsih Ungkap Fakta Sebenarnya

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2