Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Legislatif    
DPR RI
Korupsi Politik Harus Dicegah Sejak Perekrutan Caleg
Thursday 14 Feb 2013 18:03:12
 

Anggota Komisi VI DPR RI, Sohibul Iman (Foto: Ist)
 
JAKARTA, Berita HUKUM - Berpolitik dengan membangun partai tetap terhormat sepanjang beretika dan berkomitmen baik. Partai politik justru harus menjadi kawah candradimuka untuk melahirkan pemimpin bangsa. Namun, efek dari rentannya bahaya korupsi politik harus dicegah sejak awal perekrutan caleg.

Demikian ditegaskan anggota DPR RI Sohibul Iman dalam Dialog Parlemen di Press Room DPR, Kamis (14/2). Acara yang bertemakan “Bersih-bersih partai ini” menyorot maraknya korupsi politik yang dilakukan para kader partai. Ini juga merupakan dilema dari sistem pemilu kita yang sangat rentan disusupi politik uang.

Sohibul Iman yang akan menggantikan Wakil Ketua DPR Anis Matta ini menyatakan setuju harus ada perbaikan UU politik, misalnya dengan membatasi biaya kampanye.

Pada pembahasan UU Pemilu, FPKS dan FPDI Perjuangan, bertahan pada usulan sistem proporsional tertutup untuk menghindari pemilu berbiaya tinggi. Dengan proporsional tertutup, kertas suara juga semakin ringkas dan hemat.

Bila rekrutmennya baik, sistem proporsional tertutup juga akan baik. Namun, akhirnya DPR memutuskan proporsional terbuka. Walaupun, lanjut Sohibul Iman, FPKS sendiri agak gamang mengusulkan proporsional tertutup.

Namun, apapun sistemnya, partai harus mengawasi dengan ketat rekrutmen calegnya masing-masing. Jangan ada lagi politik uang. Dan partai memang tempat melahirkan pemimpin bangsa.

Hal yang penting untuk dilakukan pula adalah pendidikan politik kepada masyarakat kita. Sejak ORBA, masyarakat kita cenderung menunggu pemberian materi daripada menanyakan program kerja caleg. Jadi peluang money politic tidak saja datang dari calegnya itu sendiri, tapi juga masyarakat konstituennya.

Sohibul Iman mengatakan, kampanye dengan sistem proporsional terbuka kerap mengotori kota, karena para caleg bersaing dan berlomba-lomba untuk dikenal konstituennya dengan menempelkan poster dan spanduk.

Ia sendiri mengaku tak mau menggunakan cara seperti itu. Untuk berkampanye, kata Sohibul, ia lebih suka berkampanye lewat penempelan banner di angkutan-angkutan umum. Inilah sekadar model dan plus minus dari sistem pemilu kita.(mh/dpr/bhc/rby)



 
   Berita Terkait > DPR RI
 
  DPR Dukung Semua Program Pemerintah Selama untuk Kesejahteraan Rakyat
  Polisi Tetapkan Pengguna dan Pembuat Plat DPR RI Palsu Jadi Tersangka
  Putusan MKMK Bisa Jadi Amunisi Politik Bagi DPR RI Memakzulkan Presiden Jokowi
  Seluruh Fraksi DPR, DPD dan Pemerintah Setuju RUU 5 Provinsi Dibawa ke Rapat Paripurna
  Ini Kisah 'Falun Gong' yang Hadir dalam Rapat Paripurna DPR-RI
 
ads1

  Berita Utama
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?

Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara

Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta

Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution

 

ads2

  Berita Terkini
 
Roy Suryo menang di Praperadilan, PN Jaksel nyatakan penangkapan hingga penahanan kasus ijazah Jokowi tidak sah

Defisit APBN 2025 jebol, DPR ramai-ramai kritik pemerintah

Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?

Pemerintah diminta audit ulang kerugian Rp 600 triliun akibat under-invoicing ekspor sawit

Purbaya sebut IKN terlalu sepi jadi pusat finansial internasional

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2