Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Internasional    
Ukraina
Obama Siap Kirim Senjata ke Ukraina
Tuesday 10 Feb 2015 14:58:38
 

Presiden AS Barack Obama siap kirim senjata ke pemerintah Ukraina jika jalur diplomasi gagal. Kanselir Jerman Angela Merkel menentang rencana pengiriman senjata dan lebih memilih jalur diplomasi.(Foto: twitter)
 
UKRAINA, Berita HUKUM - Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengaku tengah mempertimbangkan untuk memasok persenjataan mematikan ke Ukraina jika diplomasi gagal mengakhiri krisis di bagian timur negara itu.

Berbicara seusai bertemu Kanselir Jerman Angela Merkel di Washington DC, Senin (9/2) waktu setempat, Obama mengatakan opsi pengiriman senjata ke Ukraina belum tertutup.

“Jika, pada kenyataannya, diplomasi gagal, saya telah meminta tim saya untuk melihat semua opsi,” ujarnya sembari menambahkan bahwa pemasokan senjata ialah satu-satunya opsi yang dipertimbangkan.

Rencana Obama tersebut tidak sejalan dengan Merkel. Meski mengakui bahwa upaya mencapai solusi diplomatik dengan Rusia mengenai Ukraina menemui kemunduran, Merkel menolak mengirim persenjataan.

Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin menyalahkan negara-negara Barat atas krisis yang terjadi di Ukraina. Putin menuding Barat mengingkari janji untuk tidak menambah keanggotaan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) sekaligus memaksa negara-negara eks-Blok Timur untuk memilih antara NATO dan Rusia.

Kepada sebuah harian Mesir, Putin menuduh Barat menyokong ‘kudeta di Kiev’, guna merujuk pelengseran Viktor Yanukovych dari kursi presiden Ukraina tahun lalu.

Rencana damai

Militer Ukraina dan kubu separatis pro-Rusia telah baku serang di bagian timur Ukraina sejak beberapa bulan lalu. Guna meredam permusuhan, Jerman dan Prancis sejatinya telah berinisiatif menggelar kesepakatan damai di Minsk, Belarus, tahun lalu.

Kesepakatan itu pun telah ditandatangani kedua pihak yang bertikai. Namun, gencatan senjata tersebut bubar di tengah jalan.

Kini, Jerman dan Prancis berencana membangun kembali kesepakatan damai dengan beberapa syarat baru. Salah satunya pembentukan zona demiliterisasi sepanjang 50-70 kilometer di bagian timur Ukraina.

Jerman, Prancis, Ukraina, dan Rusia akan kembali bertemu di Minsk, Rabu (11/2) untuk membahas syarat-syarat baru tersebut.(BBC/bhc/sya)



 
   Berita Terkait > Ukraina
 
  Ribuan Drone Digunakan Perang di Ukraina, Mengapa Fungsinya Begitu Penting?
  Krisis Pangan, Rusia Buka Opsi Ekspor Gandum Ukraina
  Rusia Ingin Umumkan Kemenangan di Ukraina pada 9 Mei, Kenapa Tanggal Itu Begitu Penting?
  Mengapa Indonesia Abstain Saat Rusia Dikeluarkan dari Dewan HAM PBB?
  Bagaimana Sikap Negara BRICS terhadap Rusia?
 
ads1

  Berita Utama
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?

Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara

Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta

Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution

 

ads2

  Berita Terkini
 
Bareskrim gerebek Five Star Denpasar, tangkap 53 orang, manajemen terlibat?

Utang Whoosh diambil alih Kemenkeu dan diklaim tak bebani APBN, CELIOS: Bakal sama saja

Respons pasien BPJS Yurizal yang meninggal dan viral dirundung nakes, Menkes: Saya merasa gagal

Sejumlah pemkab/pemkot di Jateng tak sanggup bayar gaji ASN, Wagub: Sudah kita laporkan ke pusat

Satelit Lampung-1 milik perusahaan China siap diluncurkan, apa manfaat dan risikonya?

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2