Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
EkBis    
Virus Corona
Pengamat: Pelemahan Ekonomi Global Justru Mundur ke Perang Virus Biologi
2020-01-30 09:11:46
 

Salamuddin Daeng, Pengamat Ekonomi dan Politik.(Foto: BH /mnd)
 
JAKARTA, Berita HUKUM - Pengamat Ekonomi dan Politik, Salamuddin Daeng menyampaikan situasinya sekarang ini perang digitalisasi, ICT, dan virus internet. adalah Gerak maju sejarah ke arah ini. "Namun, dalam situasi pelemahan ekonomi global ini, justru mundur lagi ke perang virus biologi," ujarnya mencermati. kondisi wabah visrus Corona di kota Wuhan, Cina.

"Memang, virus (Corona) ini disinyalir kuat sebetulnya alat perang. Namun kembalinya dunia kepada perang virus semacam ini menunjukkan ada yang hendak mempertahankan establis-nya tatanan dunia yang lama warisan Perang Dunia ke II," kemukanya, Rabu (29/1).

Akan tetapi, selain itu juga nampaknya ada yang menghendaki ekonomi dunia tetap melemah. Salamuddin Daeng menilai hal ini dikarenakan selama satu dekade terakhir sejak krisis AS 2008 ekonomi dunia ditopang pertumbuhannya oleh China.

"Nah, kebetulan dalam 3 tahun terakhir ekonomi China melemah. Sekarang, ditambah lagi serangan virus corona maka akan melemah lagi," ungkap Daeng.

Di satu sisi, harga minyak dan komoditas ikut melemah akibat pukulan ini. Padahal kemarin sempat menguat akibat memanasnya hubungan Iran dan AS. "Pelemahan harga minyak dan komoditas sejak serangan virus corona sangat significant," tukasnya.

Imbasnya, tak dapat dipungkiri bahwa ia menduga kalau dampak ekonominya bukan kepada China saja. "Memang China akan melemah. Tapi tidak separah negara yang selama ini bergantung pada pasar China, terutama AS dan negara ASIA seperti Indonesia," jelasnya.

Di samping itu, Salamuddin Daeng mengingatkan, "Indonesia akan menerima dampak paling parah. Mengingat volume perdagangan Indonesia dengan China adalah yang paling besar. Sementara, pasar komoditas Indonesia ke China adalah yang paling besar," urainya.

"Ditambah lagi Indonesia menerima pukulan harga komoditas yang jatuh, terutama minyak, batubara dan lain lain," tambah Daeng, yang juga sebagai Peneliti senior Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI).

"Ini akan semakin menambah keras pukulan resesi menuju krisis ekonomi Indonesia. Pukulan paling besar akan diterima oleh APBN dan kemudian akan menular ke BUMN bank dan non bank dan swasta. Kalau isue ini terus berlanjut Indonesia tak siap menghadapinya," pungkasnya.(bh/mnd)



 
   Berita Terkait > Virus Corona
 
  Pemerintah Perlu Prioritaskan Keselamatan dan Kesehatan Rakyat terkait Kedatangan Turis China
  Pemerintah Cabut Kebijakan PPKM di Penghujung Tahun 2022
  Indonesia Tidak Terapkan Syarat Khusus terhadap Pelancong dari China
  Temuan BPK Soal Kejanggalan Proses Vaksinasi Jangan Dianggap Angin Lalu
  Pemerintah Umumkan Kebijakan Bebas Masker di Ruang atau Area Publik Ini
 
ads1

  Berita Utama
3 Anggota Polri Ditembak Oknum TNI AD di Way Kanan Lampung, Menko Polkam Minta Pelaku Dihukum Berat

Tolak Tawaran Jadi Duta Polri, Band Sukatani Akui Lagu "Bayar Bayar Bayar" Diintimidasi

Istana Dukung Kejagung Bersih-bersih di Pertamina: Akan Ada Kekagetan

Megawati Soekarnoputri: Kepala Daerah dari PDI Perjuangan Tunda Dulu Retreat di Magelang

 

ads2

  Berita Terkini
 
3 Anggota Polri Ditembak Oknum TNI AD di Way Kanan Lampung, Menko Polkam Minta Pelaku Dihukum Berat

BNNP Kaltim Gagalkan Peredaran 1,5 Kg Sabu di Samarinda dan Balikpapan

Kasus Korupsi PT BKS, Kejati Kaltim Sita Rp2,5 Milyar dari Tersangka SR

Tolak Tawaran Jadi Duta Polri, Band Sukatani Akui Lagu "Bayar Bayar Bayar" Diintimidasi

10 Ribu Buruh Sritex Kena PHK, Mintarsih Ungkap Mental Masyarakat Terguncang

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2