Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Politik    

Polri Dapat Tekanan Politis Sangat Kuat
Wednesday 17 Aug 2011 23:18:49
 

Bambang Eka Cahya Widodo (Foto: Istimewa)
 
*Sehingga harus sangat hati-hati menentukan tersangka utama pemalsuan surat MK

JAKARTA-Kepolisian kesulitan untuk mengusut tuntas kasus mafia pemilu, karena diduga mendapat tekanan politis yang kuat. Hal inilah yang membuat kepolisian sangat berhati-hati dalam menetapkan pelaku utama sebagai tersangka kasus pemalsuan surat keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) itu.

“Sebenarya, saya sejak awal melihat persoalan ini sudah kuat buktinya. Namun, begitu memasuki proses hukum, makin tak jelas akibat tekanan politiknya sangat kuat. Polisi terlihat kesulitan mendapatkan alat bukti, sehingga harus berhati-hati. Maklum saja, orang yag diincarnya tidak main-main,” ujarnya Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Bambang Eka Cahya Widodo di Jakarta, Rabu (17/8).

Selain di kepolisian, proses penyelidikan juga dilakukan oleh Panitia Kerja (Panja) Mafia Pemilu di DPR. Dalam forum ini memuncul sangkaan pelaku utama mengarah kepada dua orang, yakni mantan hakim konstitusi Arsyad Sanusi dan mantan anggota KPU Andi Nurpati yang kini menjadi politikus Partai Demokrat. Keduanya diduga terlibat dalam proses surat palsu MK untuk meloloskan Dewie Yasin Limpo ke DPR pada pemilu 2009.

Namun, begitu kepolisian melakukan penyidikan, tampak sangat kesulitan untuk mengusut tuntas kasus mafia pemilu itu. Sejak kasus ini dilaporkan Ketua MK Mahfud MD kepada Mabes Polri pada Febuari 2011 lalu, hingga kini polisi hanya mampu menetapkan satu tersangka, yakni Mashuri Hasan, juru panggil MK. Padahal, ia hanya orang susruhan, bukan pelaku utama dalam kasus ini.

Bambang menilai, tekanan politis yang sangat kuat, baik dari DPR maupun pihak kekuasaan yang berada di belakang Andi Nurpati, telah membuat kepolisian memiliki banyak pertimbangan untuk menetapkan tersangka. “Mereka megejar ke arah pembuatnya siapa. Ini agak sulit, karena kejahatan itu hampir sempurna, tetapi karena ketahuan berarti tidak sempurna. Menurut saya polisi sudah cukup punya bukti, hanya menunggu waktu yang pas untuk menetapkan tersangka,” ujarnya yakin.(mic/irw)




 
   Berita Terkait >
 
 
 
ads1

  Berita Utama
Satgas Polri Bongkar 3 Akun Website Judi Online, 18 Pelaku Jadi Tersangka

Inilah 10 Kasus Korupsi Terbesar di Indonesia, Rugikan Negara Ratusan Triliun Rupiah

Buruh Tolak Tapera, Khawatir Dana Iuran Dikorup

6 General Manager UBPP LM PT Antam periode 2010-2021 Jadi Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Komoditi Emas 109 Ton

 

ads2

  Berita Terkini
 
Satgas Polri Bongkar 3 Akun Website Judi Online, 18 Pelaku Jadi Tersangka

Muhammadiyah Konsisten Membela Palestina dari Dulu Hingga Kini

Inilah 10 Kasus Korupsi Terbesar di Indonesia, Rugikan Negara Ratusan Triliun Rupiah

Buruh Tolak Tapera, Khawatir Dana Iuran Dikorup

Kepala Otorita IKN Mendadak Mundur Jelang Upacara 17 Agustus

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2