Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Internasional    
Rusia
Rusia Siap Bercerai dari Uni Eropa Jika Dijatuhi Sanksi
2021-02-14 13:56:19
 

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov.(Foto: istimewa)
 
RUSIA, Berita HUKUM - Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, mengancam siap memutus hubungan diplomasi dengan Uni Eropa, jika Brussels bersikeras menjatuhkan sanksi. Namun Kemenlu di Moskow mengatakan pernyataannya itu disalahartikan.

Kisruh diplomasi teranyar antara Uni Eropa dan Rusia berawal dari potongan wawancara Sergey Lavrov dan jurnalis kawakan Rusia, Vladimir Solovyov, yang diunggah Kementerian Luar Negeri lewat kanal media sosialnya.

Dalam wawancara tersebut, Lavrov ditanya "apakah kita sedang mengarah ke perpecahan dengan Uni Eropa?", dia menjawab Rusia siap menerima kenyataan itu jika Brussels menjatuhkan sanksi terhadap area yang mengancam perekonomian negeri.

"Kita berangkat dari fakta bahwa kita siap," kata dia, "dalam kasus di mana sanksi dijatuhkan terhadap sejumlah sektor yang lalu menciptakan risiko bagi perekonomian kita, termasuk bagian-bagian yang paling sensitif."

"Kami tidak ingin mengisolasi diri dari kehidupan global, tapi kami harus siap untuk itu. Jika Anda menginginkan damai, maka bersiaplah untuk perang," imbuhnya.

Wawancara itu diunggah seutuhnya pada Jumat (12/2) melalui kanal Youtube milik Solovyov.

Kremlin membantah

Juru bicara pemerintah Rusia, Dmitry Peskov, mengatakan bahwa pernyataan Lavrov disalahartikan. Menurutnya Rusia tetap berkomitmen membangun relasi yang baik dengan Uni Eropa. Tapi pada saat yang sama dia menegaskan Moskow harus bersiap menyambut skenario paling buruk.

Peskov menuduh media massa memublikasikan "berita yang sensasional" tanpa disertai konteks. Ironisnya hal serupa dilakukan Kementerian Luar Negeri saat mengunggah potongan wawancara Lavrov di Telegram tanpa disertai keterangan lengkap.

Ketika ditanya apakah pemutusan hubungan dengan Uni Eropa merupakan opsi politik di masa depan, dia merespon bahwa Rusia "tentu saja" harus siap mengambil langkah tersebut, jika dikenakan sanksi "yang sangat destruktif.'

Peskov mengatakan pihaknya harus siap memproduksi sendiri komponen utama bagi infrastrukturnya jika mendapat embargo Uni Eropa.

Dalam sebuah wawancara terpisah yang dimuat di harian Izvesta, edisi Jumat (12/2), Utusan Rusia untuk Uni Eropa, Vladimir Chizhov, memastikan perundingan Rusia-EU akan terus berlanjut. Menurutnya kunjungan Perwakilan Tinggi UE, Josep Borell, ke Moskow membiaskan sinyal positif.

Borell: Kremlin melihat demokrasi sebagai ancaman

Selasa (9/2) lalu Borell mengatakan dirinya meyakini Rusia ingin memecah-belahUni Eropa dan mengadu domba Eropa barat. Menurutnya pemerintahan Vladimir Putin sedang "mengambil jalur otoritarianisme.'

"Sepertinya tidak ada ruang bagi pengembangan alternatif-alternatif demokratis. Mereka (pemerintah Rusia) sangat tegas meredam segala bentuk upaya," kata dia di hadapan Parlemen Eropa. Menurutnya Kremlin melihat demokrasi sebagai "ancaman eskistensial.'

Ancaman sanksi dari Uni Eropa muncul menyusul penahanan tokoh oposisi Rusia, Alexei Navalny, setelah sebelumnya mengalami percobaan pembunuhan lewat racun. Dia sempat dirawat di Jerman sebelum bersikeras kembali ke Rusia untuk memimpin aksi protes melawan pemerintah.

Menurut sejumlah laporan, Uni Eropa antara lain berniat membekukan aset, dan memberlakukan larangan masuk bagi sekutu-sekutu Presiden Vladimir Putin. Reaksi dramatis dari Moskow disampaikan setelah Jerman dan Prancis menyetujui rencana sanksi tersebut.

(rzn/hp/rtr, interfax, ap/DW.com/bh/sya)



 
   Berita Terkait > Rusia
 
  Rusia Siap Bercerai dari Uni Eropa Jika Dijatuhi Sanksi
  Rusia Loloskan RUU Pelarangan Tindakan 'Kurang Ajar' terhadap Pemerintah
  Rusia akan Usir Diplomat Amerika Serikat sebagai Pembalasan
  Akhirnya Presiden Trump Ucapkan Selamat kepada Presiden Vladimir Putin
  Menang Besar Pilpres, Vladimir Putin Presiden Rusia untuk Masa Jabatan Keempat
 
ads1

  Berita Utama
Ustadz di Tangerang Tewas Ditembak Orang Tak Dikenal, Saat Pulang dari Masjid

Aturan Maritim Baru China Klaim LCS, Wakil Ketua MPR: Ini Jelas Tindakan Provokasi, Indonesia Harus Bersikap Keras dan Tegas

Biaya Bengkak Proyek Kereta Cepat, Politisi PKS: Sejak Awal Diprediksi Bermasalah

Cegah Masuknya Varian Baru Covid-19 Mu, DPR Minta Pemerintah Perketat Deteksi di Pintu Masuk

 

ads2

  Berita Terkini
 
Studi: Virus Covid-19 Berkembang Baik di Udara, Masker Longgar Rawan Tembus

Jangan Kaget! Harga BBM Pertamina Sudah Naik, Ini Daftarnya

Ustadz di Tangerang Tewas Ditembak Orang Tak Dikenal, Saat Pulang dari Masjid

Viral Napi Lapas Kelas 1 Medan Diduga Dianiaya dan Diperas Petugas

Kuasa Hukum: Utang Kasus SEA Games XIX 1997 Bukan Tanggung Jawab Bambang Trihatmodjo

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2