Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Politik    
Partai Demokrat
SBY: Kader Demokrat Harus Jalankan Politik Bersih
Saturday 23 Jul 2011 13:4
 

BeritaHUKUM.com/riz
 
*Jika tak Sanggup Dipersilahkan Segera Meninggalkan Partai

BOGOR-Akhirnya Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat (PD) Susilo Bambang Yudhoyono dapat menumpahkan kekesalan dan uneg-unegnya di hadapan 5.000 kader dalam rapat koordinasi nasional (Rakornas) yang berlangsung di Sentul Convention Center, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (23/7). Dia pun langsung ‘menembak’ sejumlah kader yang dianggapnya membuat ulah dan mencoreng citra Demokrat.

Dalam pidato sambutan pembukaan ini, SBY dengan wajah yang terlihat serius, menyatakan permintaannya kepada para kader Demokrat yang tidak sanggup menjalankan itikad perjuangan partai seperti politik bersih, politik cerdas dan politik santun untuk segera meninggalkan partai dan menyerahkan Kartu Tanda Anggota kepartaiannya.

"Siapa saja diantara kita yang tidak mau dan tidak sanggup menjalankan itikad perjuangan partai dan politik bersih, lebih baik silahkan meninggalkan partai ini. Silahkan dengan baik-baik serahkan KTA saudara, meskipun sedih karena berpisah, tapi nama baik citra partai di atas segalanya. Jangan sampai nila setitik rusak susu sebelanga dan jutaan kader ikut menanggungnya," ujar SBY dengan nada tegas dan keras.

SBY tak mau memungkiri kenyataan bahwa politik memang keras dan arena kompetisi sering tidak sehat serta banyak muncul hal-hal yang disertai fitnah dan adu domba. Dalam menghadapi seperti ini kader Demokrat diminta tidak panik, tidak kecut dan tidak takut. Memang ada pihak-pihak yang sinis, pesimis dan skeptis dengan mengatakan apa yang dilakukan Partai Demokrat omong kosong. Tapi sejarah mencatat dua kali pemilu, Demokrat secara serius menjalankan dengan baik.

Terkait dengan kasus Muhammad Nazaruddin belakangan ini yang dilatarbelakangi kasus suap pembangunan wisma atlet SEA Games, Ketua Dewan Pembina Demokrat berjanji akan berdiri di depan menghadapi masalah itu. Para kader pun diminta menghadapi tantangan dan ujian cobaan ini, tidak boleh putus asa, sikap saling menyalahkan dan sikap politik tidak cerdas tidak berguna. Demokrat harus kompak dan bersatu. "Saya pun akan berdiri di depan menghadapi badai politik ini," ujarnya.

SBY juga mengajak para kader Demokrat untuk bersama-sama menghadapi badai yang mendera partai. Dia pun meminta kesanggupan seluruh peserta rapat untuk menjalankan apa yang dimintanya itu. Para kader pun yang semula diam tekun menyimak isi pidato SBY, secara langsung dengan suara lantang menyatakan sanggup untuk menjalannya. “Sanggup…!!!,” seru mereka menggetarkan ruang pertemuan tersebut.

Selanjutnya, SBY meminta kepada seluruh kader Demokrat untuk bersikap tenang menghadapi segala cobaan, dan tidak saling berkonflik sesama internal partai. Kasus Nazaruddin dianggapnya sebagai ujian dari Tuhan dan sejarah, menjelang usia partai yang makin bertambah. Partai Demokrat akan berusia 10 tahun pada 9 September 2011 mendatang. “Bagi sebuah perjalanan dan perjuangan panjang Partai Politik, usia satu dasawarsa itu belum ada apa-apanya. Masih banyak yang harus dilakukan ke depan untuk bangsa dan negara. Semua harus jujur dan akui masih banyak kekurangan, kesalahan dan kelemahan," ujar dia.

Lebih jauh SBY menjelaskan kunci keberhasilan Partai Demokrat sangat ditentukan oleh faktor manusianya, serta ketulusan dan kebersihan jiwanya, moralnya, tekadnya. Terus terang Partai Demokrat pada masa-masa perjuangan politik, belum memiliki kapasitas dan kapabilitas tinggi. Tetapi dalam integritas, partainya tidak kalah bahkan sangat dibanggakan. Sebab, dua kali pemilu dihantam dan dihujani fitnah, tetapi tenang dan tawakal sehingga tetap bertahan hingga saat ini.

Larang Komentar
Ketua Dewan Pembina Demokrat kembali mengingatkan kadernya, agar tetap tenang dan berpikir jernih dalam menghadapi kasus Nazaruddin. SBY pun mengeluarkan perintah berisi larangan bagi para kadernya memberi komentar mengenai masalah tersebut. "Dengarkan baik-baik, jangan ada komentar yang tidak semestinya. Khusus Nazaruddin, meskipun gencar diangkat ke media massa dan jadi isu politik, saya minta kader tenang dan berpikir jernih," ujarnya

Menurut SBY, dirinya setelah ibadah shalat Jumat sudah memberikan pernyataan atas munculnya berbagai pernyataan berbagai pihak tanggapan dan komentar. SBY melihat sangat mudah dan sederhana Nazaruddin diwawancara Metro TV maupun TV One. SBY pun meminta kembali Nazaruddin untuk pulang ke Indonesia. "Saudara Nazaruddin kembalilah ke Indonesia, datang baik-baik agar diselesaikan dengan benar. Kalau Nazar tidak salah dan tahu segala menyimpangan soal Demokrat, jelaskan kepada para penegak hukum,” ujarnya.

Lebih jauh SBY berharap ada proses hukum transparan dan akuntabel bukan desas-desus yang membuat bingung dirinya dan para jajaran Demokrat. Namun, SBY sendiri juga ikut kebingungan kalau Nazaruddin tidak kembali ke Indonesia. Kecurigaan-kecurigaan akan banyak muncul di Indonesia. "Tapi kalau tidak pulang, kita terus dibingungkan, politik akan kecurigaan dan penghakiman sepihak, kita tidak tahu dimana Nazar sekarang berada polisi aparat bekerja, kita juga tidak tahu Nazar bekerja dengan siapa semua penuh dengan teka-teki," tandanya.

Dalam kesempatan terpisah, menanggapi pidato SBY tersebut, pengamat politik Burhanuddin Muhtadi mengaku tidak kaget. Pernyataan SBY soal adanya pihak-pihak yang terus memojokan partai yang didirikannya, merupakan sikap untuk mencari kambing hitam. "Seharusnya jangan mencari kambing hitam, justru sebaiknya SBY meminta internal Demokrat untuk instrospeksi diri dan menjaga solidaritasnya," kata dia.

Burhanuddin menyebut SBY kembali menuding peran orang luar dan media yang memojokan Demokrat. Padahal, pernyataan itu secara politik sangatlah tidak tepat. Meskipun ada orang luar yang memanfaatkan situasi dibalik gonjang ganjing Demokrat, seharusnya SBY sadar harusnya tidak bertindak menyalahkan orang lain dan media. “Kecil kemungkinan pihak luar terlibat. Tapi kalau mengipas-ngipas masalah ini menjadi besar, boleh jadi benar,” selorohnya.(bie/ans)




 
   Berita Terkait > Partai Demokrat
 
  Anggota Majelis Tinggi Demokrat: Wamendes Jadi Buzzerp, Penyebar Fitnah Karena Prestasinya Buruk
  Irwan Fecho: Mereka Sadar Kekuasaan di Ujung Tanduk, Sehingga Demokrat Harus Jadi Kambing Hitam
  Kader Partai Demokrat Ajukan Gugatan Pembatalan Pemecatan dan AD ART ke Mahkamah Partai
  Terima Silaturahim Ketum Demokrat, Haedar Nashir Pesan 4 Hal Ini
  Kudeta Demokrat, Harga Diri SBY Dan Keluarga Dipertaruhkan
 
ads1

  Berita Utama
Irwan Fecho: Mereka Sadar Kekuasaan di Ujung Tanduk, Sehingga Demokrat Harus Jadi Kambing Hitam

Di HBA, Jaksa Agung Sampaikan 7 Perintah Harian Kepada Seluruh Jaksa

PKS: Meski Kasus Turun, Positivity Rate Indonesia Jauh Dari Standar WHO

Cara Mendapat Obat Gratis Khusus Pasien COVID-19 yang Isoman

 

ads2

  Berita Terkini
 
Anggota Majelis Tinggi Demokrat: Wamendes Jadi Buzzerp, Penyebar Fitnah Karena Prestasinya Buruk

Pemerintah Longgarkan Aturan PPKM, PKL dan Usaha Kecil Diizinkan Beroperasi dengan Prokes Ketat

Benny Rhamdani Protes Keras Soal Perlakuan Oknum Imigrasi Malaysia: Sita Barang Milik PMI Tapi Tak Dikembalikan

Penertiban Aset: Upaya Bersama Antara KPK, Pemerintah Daerah, juga Jurnalis

Irwan Fecho: Mereka Sadar Kekuasaan di Ujung Tanduk, Sehingga Demokrat Harus Jadi Kambing Hitam

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2