Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Gaya Hidup    
WhatsApp
Sosok Miliarder di Belakang WhatsApp
Friday 21 Feb 2014 16:33:44
 

Hingga dua hari lalu pendiri WhatsApp Jan Koum dan mitra bisnisnya Brian Acton relatif tidak dikenal di luar lingkaran teknologi Silicon Valley. Koum dan Acton ditolak saat melamar ke Twitter dan Facebook.(Foto: Istimewa)
 
CALIFORNIA, Berita HUKUM - Hingga dua hari lalu pendiri WhatsApp Jan Koum dan mitra bisnisnya Brian Acton relatif tidak dikenal di luar lingkaran teknologi Silicon Valley.

Kini mereka dibicarakan di seluruh dunia sebagai miliarder paling baru dari California.

Internet hidup dengan berita bahwa Koum, 37, dan Acton, 42, telah menjual WhatsApp ke Facebook senilai $19 miliar (Rp222 triliun).

Bahkan, sebelum mendirikan WhatsApp, keduanya ditolak saat melamar pekerjaan di Facebook.

Hal ini adalah ironi yang tidak lolos dari pantauan internet setelah terungkap berapa uang yang dibayarkan Facebook untuk WhatsApp.

Jadi apa yang kita ketahui tentang para pria di belakang WhatsApp?

'Menghargai komunikasi'

Lahir di Ukraina, Koum berimigrasi ke AS pada usia 16 dengan ibunya, untuk melarikan diri dari "lingkungan politik dan anti Semit," menurut Forbes.

Masa kecilnya di Ukraina adalah pengaruh besar dalam penciptaan WhatsApp, menurut investor Jim Goetz.

Layanan itu dengan penekanan pada privasi pesan, dipengaruhi "tumbuh di negara komunis dengan polisi rahasia," kata Goetz di blog.

"Masa kecil Jan membuatnya menghargai komunikasi yang tidak direkam atau disadap," kata Goetz.

Ketika tiba di AS, Koum dan ibunya hidup dari kupon makanan, tambah Goetz.

Koum tidak melupakan asal usulnya dan ia dilaporkan menandatangani kesepakatan dengan Facebook di pintu kantor amalnya.

Ditolak Twitter

Koum bertemu Acton pada 1997 ketika keduanya bekerja di Yahoo.

Mereka meninggalkan Yahoo pada 2007 karena tidak setuju dengan model bisnis Yahoo yang mengandalkan iklan.

Pada 2009, Koum mendirikan WhatsApp.

Acton bergabung pada November tahun itu setelah gagal mencari kerja dan ditolak oleh Twitter dan Facebook.

Namun Acton merespon penolakan Twitter dengan humor dan menulis di Twitter, "Ditolak oleh Markas Besar Twitter. Tidak apa-apa. Kantornya jauh dari rumah."

Dan saat ditolak oleh Facebook, ia tetap sabar dan menulis, "Facebook menolak saya. Saya beruntung bisa bertemu orang-orang yang fantastik. Menanti pengalaman hidup selanjutnya."(BBC/bhc/sya)



 
   Berita Terkait > WhatsApp
 
  5 Larangan di WhatsApp yang Tidak Boleh Dilakukan, Risikonya Fatal!
  Akun WA Mendadak Diblokir Karena Terdeteksi Spam? Simak Cara Memulihkan Akunnya
  4 Cara Setting Penyimpanan WhatsApp biar Tak Bikin Memori HP Penuh
  Tolak Aturan Baru, Pengguna WhatsApp akan Tak Bisa Kirim Pesan
  Balas Pesan WhatsApp Tanpa Online? Begini Caranya!
 
ads1

  Berita Utama
100 Tokoh Deklarasi Tolak Pemilu Curang TSM, Desak Audit Forensik IT KPU

Anies Tegaskan Parpol Koalisi Perubahan Siap Dukung Hak Angket Kecurangan Pemilu

Timnas AMIN Ungkap Temuan soal Dugaan Penggelembungan Suara Pilpres 2024

Anies: Perjuangan Kita Belum Selesai

 

ads2

  Berita Terkini
 
Tanggapi Santai Isu Hak Angket Pemilu, JK: Tidak Usah Khawatir

Harga Beras Naik 'Tertinggi dalam Sejarah' - 'Ini Sangat Tidak Masuk Akal karena Kita Negara Agraris'

Ketum GP Ansor Sebut Tak Pernah Bubarkan Pengajian Ustadz Syafiq Riza Basalamah

KPU RI Disebut Gagal Selenggarakan Pemilu 2024 yang Jujur, Akuntabel-Transparan dan Bermartabat

Beras Langka Jelang Ramadhan, Legislator Ingatkan Pemerintah

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2