Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Eksekutif    
Tokoh Agama
Tokoh Agama Tolak Undangan Presiden SBY
Friday 16 Sep 2011 15:07:29
 

Aksi doa dan puasa bersama berlangsung di depan Istana Negara (Foto: MICOM)
 
JAKARTA (BeritaHUKUM.com) – Acara doa dan puasa bersama lintas agama masih berlangsung. Jumat (16/9) ini, merupakan hari terakhir aksi tersebut. Menjelang berakhirnya acara tersebut, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengundang para tokoh yang terlibat dalam aksi itu untuk berkunjung ke Istana Negara.

Namun, para tokoh agama dari Islam, Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Budha, dan Kong Hu Cu yang menggelar doa bersama di dekat Istana Negara menolak undangan dari Presiden SBY itu. Mereka mengaku hanya datang ke dekat Istana Negara itu, hanya untuk menggelar doa bersama dan berpuasa untuk membersihkan Bumi Pertiwi dari segala penyakit akut yang membuat bangsa dan negara ini terus terpuruk kembali.

Selama tiga hari mulai dari Rabu (14/9) lalu, hanya untuk melakukan kegiatan doa dan puasa bersama. Atasa dasar ini, mereka merasa bertemu dengan Presiden SBY bukanlah hal yang penting. Menurut mereka, ketimbang mengundangnya untuk bertemu, sebaiknya Presiden SBY segera mengambil langkah konkret untuk membersihkan Indonesia dengan memberantas korupsi yang merugikan bangsa dan negara.

Dalam kesempatan terpisah, pengamat LIPI Ikrar Nusa Bakti menyatakan, penegakan hukum pemerintahan SBY-Boediono masih perlu dikritisi, khususnya yang terkait dengan korupsi. Penegakan hukum saat ini masih jalan di tempat, alias tebang pilih.

Dia menambahkan, penilaian tebang pilih tersebut terkait dengan kasus Nazaruddin dan politisi Partai Demokrat lainnya. SBY berupaya agar politisi Demokrat lainnya tidak tersentuh. "Karena itu akan dapat merusak citra dari Partai Demokrat," tandasnya.

Meski demikian, Ikrar mengakui, untuk bidang ekonomi, pemerintahan SBY-Boediono patut mendapat apresiasi. "Ada teman saya, profesor dari Jepang, yang mengakui bahwa perekonomian Jepang saat ini lebih buruk dari Indonesia," ujarnya.

Keberhasilan pemerintahan SBY-Boediono di antaranya adalah devisa negara Indonesia yang cukup besar dan bahkan terbesar sepanjang sejarah dan perekonomian Indonesia diakui sebagai salah satu yang terbaik di Asia. (mic/irm)




 
   Berita Terkait > Tokoh Agama
 
  Tokoh Agama Tolak Undangan Presiden SBY
 
ads1

  Berita Utama
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?

Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara

Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta

Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution

 

ads2

  Berita Terkini
 
Roy Suryo menang di Praperadilan, PN Jaksel nyatakan penangkapan hingga penahanan kasus ijazah Jokowi tidak sah

Defisit APBN 2025 jebol, DPR ramai-ramai kritik pemerintah

Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?

Pemerintah diminta audit ulang kerugian Rp 600 triliun akibat under-invoicing ekspor sawit

Purbaya sebut IKN terlalu sepi jadi pusat finansial internasional

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2