BANGKOK, Berita HUKUM - Para pengunjuk rasa mulai memblokir jalan-jalan di sebagian ibu kota Thailand, Bangkok, untuk mendesak mundurnya pemerintahan sebelum menunda pelaksanaan pemilihan umum pada 2 Februari mendatang.
Mereka membuat barikade dan menduduki persimpangan utama di jalan-jalan raya.
Massa mengatakan aksi ini bermaksud untuk melumpuhkan ibu kota. Pekan lalu mereka mengancam akan memutuskan aliran listrik dan air ke kantor-kantor pemerintah.
Pemerintah telah mengirim 18.000 aparat anti huru-hara untuk mengamankan situasi.
Pengunjuk rasa yang memulai aksinya pada November lalu ingin mengganti pemerintahan Perdana Menteri Yingluck Shinawatra dengan Dewan Rakyat.
'Demokrasi keliru'
Mereka mengatakan Yingluck merupakan perwakilan dari saudara laki-lakinya, mantan perdana menteri Thaksin Shinawatra yang tersingkir oleh militer pada 2006 lalu.
Mereka menuduh kebijakan populis yang dilakukan oleh partai sekutu Thaksin telah menciptakan demokrasi yang keliru.
Partai sekutu Thaksin menjaring dukungan dari pemilih pedesaan dan telah memenangkan empat pemilu terakhir. Partai oposisi utama sekarang memboikot pemilu 2 Februari.
Sedikitnya delapan orang telah tewas sejak aksi protes dimulai akhir tahun lalu.
Pada hari Sabtu, sedikitnya tujuh orang terluka ketika orang bersenjata tak dikenal menembaki demonstran di lokasi protes utama di Bangkok.
Sementara sebelumnya, Tujuh orang mengalami luka-luka, salah seorang di antaranya luka serius, setelah para penembak mengeluarkan tembakan ke arah pengunjuk rasa penentang pemerintah di ibukota Thailand, Bangkok.
Peristiwa pada Sabtu (11/01) kemarin terjadi menjelang rencana aksi besar kelompok penentang pemerintah untuk melumpuhkan ibukota hari Senin mendatang.
Penembakan terjadi di persimpangan jalan di dekat kawasan wisata Khao San, kata polisi. Korban luka berasal dari kelompok antipemerintah.
Kepala militer Thailand Jenderal Prayuth Chan-Ocha menyerukan agar kekerasan segera diakhiri.
"Saya mengkhawatirkan masalah keamanan karena akan ada banyak orang. Kekerasan meningkat.
Saya ingin menyerukan kepada semua pihak dan semua orang agar tidak bentrok dan berkelahi. Tolong jangan gunakan kekerasan," kata Jenderal Prayuth Chan-Ocha di Bangkok.
Sementara itu Sekjen PBB Ban Ki-moon menyerukan agar semua pihak menahan diri.
Kubu oposisi menuntut pemilihan umum bulan depan dibatalkan dan menuntut Perdana Menteri Yingluck Shinawatra mundur.
Gerakan antipemerintah ini menyatakan akan melumpuhkan ibukota pada Senin.
Kemarin kelompok pendukung dan kelompok penentang pemerintah terlibat bentrokan yang menyebabkan enam orang luka-luka setelah terjadi tembakan dan ledakan.(BBC/bhc/sya) |